Nama
: derry apriyanto
Npm
: 11111874
Kelas
: 1 ka 40
Manusia
Dan Keadilan
1.
Pengertian
keadilan
Menurut pengertian umum, Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara
moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Jadi, keadilan
itu berlaku bagi seluruh mahluk hidup maupun bagi benda-benda yang ada di alam
semesta. Hal ini dikarenakan oleh adanya keterikatan yang terjadi secara
alamiah, sehingga seluruh mahluk harus berlaku adil kepada yang lainnya.
Sebagai salah satu jalan mempertahankan keseimbangan yang alami tersebut.
Justice
is the first virtue of social institutions, as truth is of systems of thought (John
Rawls).
John Rawls
dalam A Theory of Justice (1973) memperkenalkan keadilan prosedural
sebagai sebuah alternatif dalam menghadapi era perubahan, Keadilan prosedural
tersebut menitik beratkan pada proses
lahirnya keadilan, bukan pada keadilan yang dihasilkan. Dengan pengertian tersebut, Rawls mencoba menjelaskan bahwa produk yang
dihasilkan dari sebuah keadilan dapat saja berubah dari waktu ke waktu. Sebagai
mana diketahui, keadilan dapat
terpelihara dengan baik jika ada institusi yang berwenang menangani masalah
ini, seperti negara contohnya. Dengan adanya hukum yang dibuat oleh negara,
maka negara dapat melakukan kontrol terhadap keadilan itu sendiri, dengan
asumsi tidak terjadi penyelewengan oleh oknum-oknum yang kemudian dapat merubah
hasil dari keadilan tersebut. Rawls mendasarkan konsep keadilan proseduralnya pada teori kontrak sosial.
Artinya, proses peradilan itu akan dirasa perlu oleh seluruh elemen masyarakat,
karena hanya dengan begitu kepentingan yang mereka miliki dapat terlindungi.
Seluruh elemen masyarakat akan merasa berkepentingan pada adanya sebuah jaminan
prosedur keadilan, Negaralah
yang pada akhirnya memastikan bahwa proses tersebut mesti terjamin dengan baik.
2.
Keadilan
social
Keadilan Sosial adalah
Keadilan Lingkungan
Dunia
mampu mengatasi masalah kemiskinan global tanpa harus mengorbankan sumber daya
alam. Yang diperlukan adalah sistem pembangunan yang berkeadilan sosial.
Kesimpulan
pertama muncul dalam laporan terbaru Oxfam berjudul A safe and just
space for humanity. Laporan ini menemukan fakta yang mengejutkan. Dunia
bisa mengatasi masalah kemiskinan tanpa harus mengorbankan sumber daya alam.
Upaya
menyediakan makanan bagi 13% penduduk dunia yang kelaparan misalnya, menurut
Oxfam hanya memerlukan 1% pasokan pangan dunia.
Untuk
memenuhi kebutuhan 19% populasi dunia yang saat ini kekurangan energi bisa
dicapai hanya dengan peningkatan emisi CO2 yang kurang dari 1%.
Sementara
untuk mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan, diperlukan hanya 0,2%
dari seluruh pendapatan global.
Kategori
masyarakat miskin adalah mereka yang hidup dengan uang kurang dari US$1,25 per
hari. Jumlah mereka kini mencapai 21% dari populasi dunia.
Menurut
Oxfam, sumber tekanan terbesar bagi kelestarian alam adalah konsumsi yang
berlebihan dari orang-orang terkaya dunia yang jumlahnya hanya 10% dari
populasi global.
Dunia
kini melayani mereka dengan memroduksi jasa dan produk yang mereka butuhkan.Bahkan
50% emisi karbon global hanya dihasilkan oleh 11% penduduk dunia. Sementara 57%
pendapatan dunia dikuasai oleh 10% penduduk terkaya.
Sebanyak
33% nitrogen yang dihasilkan di alam, dipakai untuk memroduksi daging bagi
penduduk Uni Eropa yang jumlahnya hanya 7% populasi dunia.
Tekanan
terhadap kelestarian alam juga datang dari kelas menengah yang jumlahnya kini
terus bertumbuh. Mereka menurut Oxfam cenderung ingin meniru gaya hidup
orang-orang terkaya .
Pada
tahun 2030, permintaan global atas air diperkirakan meningkat sebesar 30% dan
permintaan pangan dan energi naik masing-masing 50%.
Ketidakefesienan
penggunaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia –dalam bentuk
makanan yang tersisa, air yang terbuang, dan penggunaan alat transportasi yang
boros BBM – menambah tekanan terhadap sumber daya alam.
Untuk
itu, dunia harus beralih ke sistem yang aman dan adil bagi kemanusiaan dengan
cara menghapuskan kemiskinan dan membawa manusia ke jenjang kesejahteraan.
Dengan
cara ini kita akan bisa mengurangi tekanan atas sumber daya alam dan
mengembalikan tekanan tersebut dalam batas-batas yang normal.
Konsep
ini sejalan dengan seruan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon dalam rangka
memeringati Hari Keadilan Sosial yang jatuh kemarin (Senin, 20 Februari).
Ban
meminta kita semua untuk bergerak melawan ketidakadilan, korupsi, represi, dan
kekurangan lapangan kerja. Sekjen PBB menuntut sebuah sistem pembangunan
ekonomi yang berkeadilan sosial. “Angin perubahan kini muncul di seluruh
penjuru dunia dan landasan dari semua gerakan massa ini adalah tuntutan pada
keadilan sosial,” ujarnya.
Menurut
Ban, konferensi PBB dengan tema pembangunan yang berkelanjutan (Rio+20), yang
akan dilangsungkan di Rio de Janeiro bulan Juni nanti menawarkan kesempatan
pada pemerintah dan pembuat kebijakan untuk memikirkan kembali strategi
pembangunan dan praktik bisnis mereka sehingga bisa menciptakan masa depan yang
berkelanjutan dan berkeadilan sosial.
3.
Berbagai macam keadilan
Keadilan menurut Aristoteles
adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik
tengah diantara ke dua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit.
Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua otang
tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka
masing-masung orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. Kalau tidak
sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan
pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.Keadilan oleh
Plato dproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang
yang mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.Socrates yang
memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan tercipta
bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan
tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan pada pemerintah, sebab pemerintah
adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat.Kong Hu Cu
berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai
ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau
disepakati.Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah
pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan
terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan
kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang
menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan
bersama.
Keadilan Legal atau
Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan
dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan
menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan
pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (The Man Behind The
Gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan, Sunoto menyebutnya
keadilan legal.Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk member
tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat.
Keadilan terwujud dalam masyarajat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan
fungsinya secara baik menurut kemampuannya. Fungsi penguasa ialah
membagi-bagikan fungsi-fungsi dalam Negara kepada masing-masing orang sesuai
dengan keserasian itu. Setiap orang tidak mencampuri tugas dan urusan yang
tidak cocok baginya.Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap
pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan
menciptakan pertentangan dan ketidakserasian. Misalnya, seorang pengurus
kesehatan mencampuri urusan pendidikan, atau seorang petugas pertanian
mencampuri urusan petugas kehutanan. Bila itu dilakukan maka akan terjadi
kekacauan.
Keadilan Distributif : Aristoteles berpendapat bahwa
keadilan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan
hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are
treated equally). Sebagai contoh, Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5
tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu
perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Andaikata Ali menerima Rp. 100.000,-
maka Budi harus menerima Rp. 50.000. Akan tetapu bila besar hadiah Ali dan Budi
sama, justru hal tersebut tidak adil.
Keadilan Komutatif : Keadilan
ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi
Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban
dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan
ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam
masyarakat.
4. Kejujuran
Kejujuran tidak selalu membawa kebaikan bagi yang berpikir, berkata, dan
berbuat jujur. Itulah kenyataannya.Contohnya saat siswa-siswa sekolah
mengerjakan ulangan. Belum tentu siswa yang berbuat jujur dengan mengerjakan
sendiri nilainya bagus. Bisa saja siswa yang menyontek malah mendapat nilai
bagus.Contoh lain adalah saat berdagang. Pedagang yang jujur belum tentu
mendapat untung yang banyak. Bisa saja pedagang yang tidak jujur malah mendapat
untung lebih banyak.Itulah kejujuran.
Berpikir tidak jujur tidak akan membuat sial.
Berkata tidak jujur tidak akan membuat dosa.
Berbuat tidak jujur tidak akan membuat sedih.
Namun,
Kejujuran adalah kesadaran. Jika seseorang sadar maka tentu saja orang tersebut akan berbuat jujur.
Kejujuran berasal dari hati nurani dan tidak bisa dipaksakan.
Jadi mari kita latih hati nurani kita untuk berbuat jujur.
5. Kecurangan
kecurangan adalah suatu perbuatan
yang tidak jujur dalam kaedahnya berarti belawanan dengan sifat
keadilan,kecurangan ini dapat ditimbulkan akibat tidak adanya iman yang kuat
untuk membentengi diri dari godaan setan agar diri kita meraih semua sesuatu
yang kita inginkan dengan menghalalkan segala cara dan maka dari itu timbullah
sifat kecurangan tersebut.selain dari itu kecurangan bisa juga dtanga dari diri
kita apabila kita tidak mempunyai sifat bersyukur terhadap apa yang telah kita
dapat.
banyak orang berdalih ketika
mereka melakukan kecurangan karena situasi yang terjepit sehingga mereka
terpaksa melakukan semua itu,padahal tidak demikian apabila kita selalu
mensyukuri nikmat yang telah allah swt berikan karena allah memberikan
nikmatnya kepada setiap hambanya secara adil tanpa ada rasa pilih kasih
sedikitpun.
contoh perbuatan curang:ketika
seseorang terobsesi ingin menjadi juara umum dalam sebuah pertandingan
futsal,tetapi dia tidak berlatih dan berusaha mengejar obsesinya tersebut dan
hanya berpikiran bagaiman caranya untuk menjadi juara tetapi tanpa ada usaha
nah disinilah mulai ada keinginan untuk melakukan kecurangan tersebut
6. Perhitungan hisab dan pembalasannya
jika anda telah mengenal bahwa Allah menciptakan
anda supaya beribadah kepada-Nya maka ketahuilah bahwa Allah memberitahukan
dalam seluruh kitab yg Dia turunkan kpd para Rasul-Nya
bahwa Dia akan membangkitkan anda setelah mati. Lalu memberi ganjaran amal
perbuatan anda di akhirat setelah mati.Hal ini dikarenakan, lewat kematian,
manusia berpindah dari negeri tempat beramal nan fana’ menuju negeri
pembalasan nan abadi, yaitu kehidupan setelah mati. Jika masa yg Allah tentukan
utk manusia hidup telah sempurna maka Allah menitahkan malaikat maut utk
mencabut ruhnya sendiri dari jasadnya, lalu iapun mati setelah sebelumnya
merasakan sakitnya kematian di saat ruh keluar dari jasad.Adapun ruh, maka
Allah menempatkannya di negeri penuh kenikmatan (surga) jika ruh tersebut
beriman & taat kpd Allah. Dan jika ruh itu kafir kpd Allah, mendustakan
hari kebangkitan & pembalasan, maka Allah menempatkan ruh tersebut di negeri
azab (neraka). Sampai tiba masa akhir dunia yg dijanjikan lalu terjadilah
Kiamat. Maka semua makhluk yg ada mati & yg tinggal hanyalah Allah semata.
Kemudian Allah membangkitkan seluruh makhluk & dikembalikan semua ruh kpd
jasadnya masing-masing. Setelah Allah mengembalikan jasad dgn sempurna
sebagaimanaDia ciptakan pd awal mula. Hal itu dalam rangka Allah menghisab manusia,
lalu memberikan balasan kpd mereka atas amal perbuatannya, baik laki maupun
perempuan, pemimpin maupun rakyat, yg kaya & yg miskin tanpa menzalimi
seorangpun. Dia mengqishash (hukum balas)
bagi yg terzalimi terhadap yg mendzalimi. Sampai-sampai hewan dibalaskan dari
yg menzaliminya. Dia balaskan bagi sebagian terhadap sebagian yg lain kemudian
berfirman kpd hewan: “Jadilah kamu tanah” karena hewan tdk masuk surga maupun
neraka.Allah memberikan balasan bagi manusia & jin masing-masing sesuai
amal perbuatannya. Lalu Dia memasukkan orang-orang mukmin yg mentaati-Nya &
mengikuti Rasul-Nya
ke dalam surga sekalipun mereka itu orang paling fakir. Dan memasukkan
orang-orang kafir yg ingkar ke dalam neraka, sekalipun mereka itu orang kaya
& berkedudukan di dunia. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang yg paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yg paling bertaqwa di antara kamu.” ( QS.Al
Hujurat : 13)
Surga adl tempat yg penuh kenikmatan. Didalamnya terdapat
berbagai macam kenikmatan yg tdk seorangpun mampu menggambarkannya. Di dalam
surga terdapat seratus derajat. Setiap derajat mempunyai penghuni menurut kadar
keimanan & ketaatan mereka kpd Allah. Derajat terendah di surga ialah
penghuninya diberi kenikmatan 70 kali lipat melebihi kenikmatan raja termewah
di dunia. Neraka –semoga Allah melindungi kita darinya- ialah tempat penuh azab
di akhirat setelah mati. Di dalamnya terdapat berbagai macam siksaan &
hukuman yg bisa menimbulkan rasa takut yg dahsyat di hati & mata menangis
jika dikisahkan. Sekiranya kematian
didapati di kampung akhirat niscaya matilah penghuni neraka dgn sekedar
melihatnya. Akan tetapi kematian itu hanya sekali saja sbgsarana manusia pindah dari
kehidupan dunia menuju akhirat. Di dalam Al Qur’an disebutkan secara rinci
tentang kematian, kebangkitan & hisab (penghitungan amal perbuatan),
pembalasan, surga & neraka serta semua yg kami sebutkan tadi. Dalil-dalil
adanya kebangkitan
setelah mati, hisab & pembalasan teramat byk . Allah ta’ala
berfirman di dalam Al Qur’an :
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu
& kepadanya Kami akan mengembalikan kalian & daripadanya Kami akan mengeluarkan
kamu pd kali yg lain.” (QS.Toha : 55)
Allah ta’ala berfirman:
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; &
dia lupa kpd kejadiaannya; ia berkata: “Siapakah yg dpt menghidupkan tulang
belulang, yg telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yg
menciptakannya kali pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”
(QS.Yasin: 78-79)
Allah ta’ala berfirman:
“Orang-orang yg kafir menyangka, bahwa mereka
sekali-kali tdk akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar
kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yg telah kamu
kerjakan”. Yang demikian itu adl mudah bagi Allah.” (QS.At Taghabun : 7).
Makna global Ayat:
Pada ayat pertama Allah ta’ala memberitakan bahwa
Dia menciptakan manusia mulanya dari tanah. Yaitu ketika menciptakan bapak
mereka, Adam dari tanah. Kemudian Dia memberitakan akan mengembalikan manusia
ke dalam tanah setelah mati yakni di dalam kubur sbgkemuliaan bagi mereka. Lalu
Dia memberitakan akan mengeluarkan mereka pd waktu yg lain sehingga manusia
keluar hidup-hidup dari kuburnya dari manusia pertama hingga yg paling akhir.
Kemudian Allah menghitung amal perbuatan mereka & memberinya balasan.Pada
ayat kedua Allah membantah orang kafir yg mendustakan adanya kebangkitan setelah
mati dimana menganggap mustahil tulang belulang bisa hidup kembali setelah
hancur luluh. Allah membantah orang kafir tersebut dgn memberitakan bahwa Dia
akan menghidupkan tulang belulang itu karena Dialah yg telah menciptakannya
kali pertama dari sebelumnya tdk ada.Pada ayat ketiga Allah membantah
orang-orang kafir yg mendustakan adanya kebangkitan setelah mati bahwa mereka
telah salah sangka. Dia memerintahkan Rasul-Nya
supaya bersumpah kpd mereka dgn nama Allah utk menunjukkan keseriusan bahwa
Allah pasti akan membangkitkan mereka & akan memberitakan kpd mereka apa yg
telah mereka perbuat, lalu memberi balasan kpd mereka atas perbuatan tersebut.
Dan semua itu amatlah mudah bagi Allah.Pada ayat lain Allah memberitakan bahwa
apabila Dia telah membangkitkan orang-orang yg mendustakan adanya kebangkitan
setelah mati & adanya neraka, Dia akan siksa mereka di neraka Jahanam
seraya dikatakan kpd mereka:
“Rasakanlah
siksa neraka yg dahulu kamu mendustakannya.” (QS.Sajdah : 20)
7.
Pemulihan nama baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama
baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar
namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bgai orang/tetangga
disekitamya adalah suatu kebanggaan batin yang tak Ternilai harganya.
Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan ltu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai
dengan kodrat manusia, yaitu :
a) manusia menurut sifat dasamya adalah mahluk moral
b) ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri scbagai pelaku moral tersebut.
Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan ltu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai
dengan kodrat manusia, yaitu :
a) manusia menurut sifat dasamya adalah mahluk moral
b) ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri scbagai pelaku moral tersebut.
8. Pembalasan
Pembalasan ialah suatu
reaksi atas perbuatan orang lain. reaksi itu dapat berupa perbuatan yang
serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang
seimbang.
Sebagai contoh, A memberikan makanan kepada B. Di lain kesempatan B memberikan minuman kepada A. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan serupa, dan inl merupakan pemba]asan.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhanpun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang seimbang. yaitu siksaan di neraka.
Sebagai contoh, A memberikan makanan kepada B. Di lain kesempatan B memberikan minuman kepada A. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan serupa, dan inl merupakan pemba]asan.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhanpun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang seimbang. yaitu siksaan di neraka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar